Kamis, 17 Juli 2014

Ruang Pergaulan Terdidik


Pemateri: #BaruCitacitaYaa.. Rizky Lestari,S.Pd  (Alumnus ponpes tarbiyatul mua’llimin wal mua’llimaat Al islami Hidayatunnajah – dan ponpes MA An najiyah, melanjutkan Srata-1 di Universitas Pendidikan Indonesia, fakultas Pendidikan. Sekarang menjabat sebagai ketua tim inti penyusun kurikulum Indonesia).
Tema: Ruang Pergaulan Remaja Terdidik

            Semua dari mahluk social seperti kita tidak bisa terlepas dari pergaulan. Interaksi pertama yang dilihat oleh setiap anak adalah rumah dan lingkungannya. Semua terekam dibenak seseorang dan menjadi gambaran kehidupannya. Jiwa anak yang masih lentur sedikit sedikit mulai terbentuk, tersusun sesuai apa yang ia tangkap dari rumah dan lingkungannya.

            Kini, anak itu tumbuh seiring berlalunya waktu, menjadi pribadi yang dipenuhi oleh masa barunya yang asing. Yang ia anggap ini adalah masa terindahnya. Yaa dia kini seorang remaja. Lantas, apa dan siapa yang terekam dibenaknya dan kini telah menjadi jiwanya? Semua pasti berharap aliran kebaikan. Apakah realita membantah hal itu? Pergaulan dan pendidikan menjawab satu demi satu pertanyaan ini.

            Realita yang terjadi kini sugguh hancur, hati mana yang tega mendengar media tentang realita remaja zaman ini yang hancur? Hati mana yang tidak menjerit mendengar kaula muda emas, gemilang penuh prestasi kehilangan kehormatannya? Pergaulan bertanggung jawab atas semua itu. Sosok yang terekam dan mewatak dibenak para remaja harus bertanggung jawab atas semua itu! Rumah tempat ia pulang dan menangis, orang tua yang memberi dan memfasilitasinya dengan kebebasan karena kesibukan, media masa yang menanamkan kerusakan disetiap detiknya, dan teman.. teman yang menjadi karakternya saat ini, serta dirinya yang lugu dan nafsunya yang berkata.  Tapi mana sekarang semua itu? Lari hilang! Tinggal penyesalan dan kehancuran kini yang menghantui remaja malang itu. Psikologisnya tertekan, aborsi atau bunuh diri? sekarang dia gila, jiwanya sakit. Kasihan sekali.

 Oleh karena itu, masihkah kita sebagai remaja normal tertarik dengan “free sex”? yang sekarang disebut dan digembor gemborkan oleh yahudi dengan sebutan “freedom”? tragis bukan? Semua ini butuh peranan banyak pihak. Terutama peranan dirinya sendiri, orang tua, teman dan guru.

Masa indah dan penuh dengan gejolak nafsu pada remaja harus diredakan dengan penjagaan diri, pandangan, dan hati. Remaja harus mengenal agamanya dengan lurus, mendekatkan diri dengan Rabbnya dan mencintai nabinya. Kemudian islam akan menjaga kehormatannya. Islam mewarnai karakter remaja dan akan tumbuh menjadi pribad musim yang baik. Kemudian tugas orang tua dalam membimbing dan menjadi sosok pertama yang harus mengetahui perkembangan anaknya. Orang pertama yang harus menanamkan kerakter berjiwa muslim yang baik, menjaganya, memantaunya dan terus menasihatinya. Factor terpenting selanjutnya adalah teman. Selain interaksi remaja dirumah, pasti ia juga banyak berinteraksi dengan temannya. Remaja harus pintar pintar memilih teman, dan dilingkungan apa ia biasa bergaul. Sebagian sekolah tidak memperdulikan pergaulan, hanya menggembor gemborkan kalimat “tembus perguruan tinggi negri faforit” tanpa memperdulikan siswa didiknya menjadi pribadi muslim yang sholih. Guru yang seharusnya menjadi pendidik, kini hanya mengejar materi dan lupa untuk mengajarkan akhlaq. Tidak banyak sekolah yang memperhatikan hal ini. Hanya sebagian kecil saja, seperti di lingkungan pesanren. Selain pendidikan yang kondusif dan sistematis, pendidikan berkarakter dibangun dipesantren. Sebagai pelajaran yang saya ambil dari pengalaman saya  belajar 6 tahun mondok, terbukti belajar di pesantren lebih efektif daripada harus belajar disekolah negri. Bukan hanya mengejar dunia, tapi diajarkan pelajaran yang jauh lebih mulia, mengejar syurga milik Rabb kita dan bersua dengan Allah disyurga nanti, amiiin. Harapan yang paling mulia yang dimiliki oleh setiap muslim. Lingkungan yang baik, pengajar dengan jiwa pendidik dan berkompeten dibidangnya, serta teman yang mengajaknya dan setia menemaninya dalam keadaan taat pada Allah. Itu nilai lebih yang sangat ditekankan di pesantren.

Oleh karena itu, banyak yang harus kita perbaiki dalam system pendidikan di negri kita tercinta ini. Bukan hanya KBM tapi, tarbiyah lebih luas dari itu. Menjaga kehormatan, menjaga pandangan dan menjaga hati, suatu kebutuhan pokok. Dan selalu berdoa pada Allah, Rabb kita semua, agar kita menjadi remaja dan pribadi muslim yang selalu menjaga kehormatannya. Semoga pembahasan pada pertemuan kali ini bermanfaat untuk kita, remaja muslim Indonesia yang sekarang sedang menyimak acara ini, khususnya untuk saya sendiri. Mungkin cukup sekian dari saya, atas perhatiannya saya ucapan jazakunnAllah khair. Assalaamua’laikumwarohmatullahiwabarokaatuh…………………………


REMAJA GEMILANG INDONESIA!! GANBATTE!!  o\^_^/o


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About