Pemateri: #BaruCitacitaYaa.. Rizky Lestari,S.Pd (Alumnus ponpes tarbiyatul
mua’llimin wal mua’llimaat Al islami Hidayatunnajah – dan ponpes MA An najiyah,
melanjutkan Srata-1 di Universitas Pendidikan Indonesia, fakultas Pendidikan.
Sekarang menjabat sebagai ketua tim inti penyusun kurikulum Indonesia).
Tema: Ruang Pergaulan Remaja Terdidik
Semua dari mahluk social seperti kita tidak bisa terlepas dari pergaulan.
Interaksi pertama yang dilihat oleh setiap anak adalah rumah dan lingkungannya.
Semua terekam dibenak seseorang dan menjadi gambaran kehidupannya. Jiwa anak
yang masih lentur sedikit sedikit mulai terbentuk, tersusun sesuai apa yang ia
tangkap dari rumah dan lingkungannya.
Kini, anak itu tumbuh seiring berlalunya waktu, menjadi pribadi yang dipenuhi
oleh masa barunya yang asing. Yang ia anggap ini adalah masa terindahnya. Yaa
dia kini seorang remaja. Lantas, apa dan siapa yang terekam dibenaknya dan kini
telah menjadi jiwanya? Semua pasti berharap aliran kebaikan. Apakah realita
membantah hal itu? Pergaulan dan pendidikan menjawab satu demi satu pertanyaan
ini.
Realita yang terjadi kini sugguh hancur, hati mana yang tega mendengar
media tentang realita remaja zaman ini yang hancur? Hati mana yang tidak menjerit
mendengar kaula muda emas, gemilang penuh prestasi kehilangan kehormatannya?
Pergaulan bertanggung jawab atas semua itu. Sosok yang terekam dan mewatak
dibenak para remaja harus bertanggung jawab atas semua itu! Rumah tempat ia
pulang dan menangis, orang tua yang memberi dan memfasilitasinya dengan
kebebasan karena kesibukan, media masa yang menanamkan kerusakan disetiap
detiknya, dan teman.. teman yang menjadi karakternya saat ini, serta dirinya
yang lugu dan nafsunya yang berkata. Tapi mana sekarang semua itu? Lari
hilang! Tinggal penyesalan dan kehancuran kini yang menghantui remaja malang
itu. Psikologisnya tertekan, aborsi atau bunuh diri? sekarang dia gila, jiwanya
sakit. Kasihan sekali.
Oleh karena
itu, masihkah kita sebagai remaja normal tertarik dengan “free sex”? yang
sekarang disebut dan digembor gemborkan oleh yahudi dengan sebutan “freedom”?
tragis bukan? Semua ini butuh peranan banyak pihak. Terutama peranan dirinya
sendiri, orang tua, teman dan guru.
Masa indah dan
penuh dengan gejolak nafsu pada remaja harus diredakan dengan penjagaan diri,
pandangan, dan hati. Remaja harus mengenal agamanya dengan lurus, mendekatkan
diri dengan Rabbnya dan mencintai nabinya. Kemudian islam akan menjaga
kehormatannya. Islam mewarnai karakter remaja dan akan tumbuh menjadi pribad
musim yang baik. Kemudian tugas orang tua dalam membimbing dan menjadi sosok
pertama yang harus mengetahui perkembangan anaknya. Orang pertama yang harus
menanamkan kerakter berjiwa muslim yang baik, menjaganya, memantaunya dan terus
menasihatinya. Factor terpenting selanjutnya adalah teman. Selain interaksi
remaja dirumah, pasti ia juga banyak berinteraksi dengan temannya. Remaja harus
pintar pintar memilih teman, dan dilingkungan apa ia biasa bergaul. Sebagian sekolah tidak memperdulikan pergaulan, hanya
menggembor gemborkan kalimat “tembus perguruan tinggi negri faforit” tanpa
memperdulikan siswa didiknya menjadi pribadi muslim yang sholih. Guru yang
seharusnya menjadi pendidik, kini hanya mengejar materi dan lupa untuk
mengajarkan akhlaq. Tidak banyak sekolah yang memperhatikan hal ini. Hanya
sebagian kecil saja, seperti di lingkungan pesanren. Selain pendidikan yang
kondusif dan sistematis, pendidikan berkarakter dibangun dipesantren. Sebagai
pelajaran yang saya ambil dari pengalaman saya belajar 6 tahun mondok,
terbukti belajar di pesantren lebih efektif daripada harus belajar disekolah
negri. Bukan hanya mengejar dunia, tapi diajarkan pelajaran yang jauh lebih
mulia, mengejar syurga milik Rabb kita dan bersua dengan Allah disyurga nanti,
amiiin. Harapan yang paling mulia yang dimiliki oleh setiap muslim. Lingkungan
yang baik, pengajar dengan jiwa pendidik dan berkompeten dibidangnya, serta
teman yang mengajaknya dan setia menemaninya dalam keadaan taat pada Allah. Itu
nilai lebih yang sangat ditekankan di pesantren.
Oleh karena itu,
banyak yang harus kita perbaiki dalam system pendidikan di negri kita tercinta
ini. Bukan hanya KBM tapi, tarbiyah lebih luas dari itu. Menjaga kehormatan,
menjaga pandangan dan menjaga hati, suatu kebutuhan pokok. Dan selalu berdoa
pada Allah, Rabb kita semua, agar kita menjadi remaja dan pribadi muslim yang
selalu menjaga kehormatannya. Semoga pembahasan pada pertemuan kali ini
bermanfaat untuk kita, remaja muslim Indonesia yang sekarang sedang menyimak
acara ini, khususnya untuk saya sendiri. Mungkin cukup sekian dari saya, atas
perhatiannya saya ucapan jazakunnAllah khair.
Assalaamua’laikumwarohmatullahiwabarokaatuh…………………………
REMAJA GEMILANG INDONESIA!! GANBATTE!! o\^_^/o


Tidak ada komentar:
Posting Komentar